Selasa, 25 Juni 2013

makalah kreatifitas menulis sastra

MAKALAH BAHASA INDONESIA
“KREATIFITAS MENULIS SASTRA”
Dosen Pengampuh:
UNKHAIR.jpg
Drs. Udin Saubas, M. HUM

Oleh:
 Jainudin Asyura
NPM: 032 912 107
Kelas: C
Semester: II (dua)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE
2013

 

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini tepat pada waktunya.
Dalam penulisan makalah ini, penulis mengambil tema dalam konteks menulis kreatif. Menulis merupakan sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis untuk tujuan, misalnya memberi tahu, meyakinkan, atau menghibur. Menulis itu diperlukan oleh setiap orang, karena dengan menulis kita dapat meningkatkan kreativitas dalam menempuh karir sehingga mampu membawa seseorang dikenali banyak orang dengan kata lain menulis itu sebagai pengungkap jati diri seseorang, dengan menulis seseorang dapat menemukan jati diri yang sebenarnya.
Namun, dalam menulis ada hal-hal yang harus diperhatikan. Dengan makalah ini penulis memaparkan penjelasan mengenai cara-cara “menulis kreatif sastra” sesuai dengan judul dari makalah ini.
Makalah ini di buat sesuai dengan kriteria dalam penulisan karya ilmiah yang telah penulis pelajari, namun dalam penulisan makalah ini masih ada kesalahan kecil yang tanpa di sadari, maka dari itu saran dan kritikan dari yang bersangkutan sangat di harapkan.

Ternate, 2 Juni 2013   

                           Penulis                                


DAFTAR ISI

Kata pengantar..............................................................................i
Daftar isi.........................................................................................ii
Pendahuluan..................................................................................1
1.1.            Latar belakang.....................................................................1
1.2.            Rumusan masalah................................................................2
1.3.            Tujuan penulisan makalah...................................................2
Pembahasan...................................................................................3
2.1.      Kreativitas...........................................................................3
2.2.      Bekal kemampuan bahasa...................................................5
2.3.      Bekal kemampuan sastra.....................................................7
Penutup..........................................................................................9
3.1.      Kesimpulan.........................................................................9
3.2.      Saran...................................................................................9
Daftar pustaka...............................................................................10







PENDAHULUAN
1.1.            Latar belakang
Menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam seluruh proses belajar yang dialami siswa. Menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan menyampaikan pesan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Dalam komunikasi tulis setidaknya ada empat unsur yang terlibat yaitu penulis, pesan atau isi tulisan, media berupa tulisan, dan pembaca. Menulis merupakan suatu proses. Untuk menghasilkan tulisan yang baik umumnya orang melakukannya berkali-kali. Sangat sedikit orang yang menghasilkan tulisan yang benar-benar memuaskan dengan hanya sekali tulis. Tujuan menulis adalah untuk mengungkapkan gagasan, pendapat, pengetahuan, dan pengalaman secara tertulis. Menulis memiliki berbagai macam bentuk. Salah satunya adalah menulis karya sastra.
Sastra merupakan salah satu hasil seni. Sebagai hasil seni, seni sastra merupakan hasil cipta manusia yang mengekspresikan pikiran, gagasan, pemahaman, tanggapan, dan perasaan penciptanya tentang kehidupan dengan bahasa imajinatif dan emosional. Tokoh-tokoh, kejadian, peristiwa, suasana, bahkan ruang tempat dan waktu kejadian adalah ‘dunia’ ciptaan pengarang. Dunia ciptaan itu mungkin bukan fakta. Dunia ciptaan itu merupakan ‘tiruan’ dunia fakta, tetapi bukan tiruan yang sama seperti duplikat atau potret. Tiruan itu lebih merupakan tanggapan penciptanya atas dunia fakta.
Karya sastra sebagai hasil kreativitas, kepekaan pikiran, dan perasaan pengarang dalam menanggapi peristiwa di sekitarnya, menuntut penciptanya untuk memiliki daya kreativitas yang tinggi. Dalam penciptaan karya sastra, kreativitas sangat diperlukan agar karya sastra yang dihasilkannya dapat bersifat dulce et utile. Kalau karya yang dihasilkannya tidak dulce et utile, karya tersebut belum dapat dikatakan bernilai sastra. Menurut Horace (dalam Pradopo, 1994) hakikat karya sastra adalah dulce et utile, yang artinya menyenangkan dan berguna. Maksudnya, karya sastra harus mampu memberikan kesenangan kepada pembaca, dan berguna bagi kehidupan pembaca dalam menambah kedewasaan dan kebijaksanaan dalam bermasyarakat.
Karya sastra menyajikan nilai-nilai keindahan dan paparan peristiwa yang memberikan kepuasan batin pembaca, mengandung pandangan atau komtemplasi batin, baik yang berhubungan dengan masalah agama, filsafat, politik, dan budaya, maupun berbagai problem yang berhubungan dengan kompleksitas kehidupan yang tergambar lewat media bahasa media tulisan, dan struktur wacana (Aminudin, 1991).
1.2.            Rumusan masalah
Dari penjelasan latar belakang diatas maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apakah unsur-unsur penting dalam penulisan sastra?
2.      Mengapa harus berkreativitas dalam penulisan sastra?
3.      Bagaimana penggunaan bahasa dalam karya sastra?
1.3.            Tujuan penulisan makalah
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Sebagai Tugas dalam perkuliahan bahasa indonesia,
2.      Untuk mengetahui Unsur-unsur penting dalam penulisan sastra,
3.      Mengetahui kreativitas dalam penulisan sastra, dan
4.      Mempelajari penggunaan bahasa dalam karya sastra.


PEMBAHASAN
2.1.  Kreativitas
Kreativitas dapat menjadikan seorang penulis mampu memunculkan ide-ide baru dan mengolah ide itu sehingga menjadi ide yang matang dan utuh. Dengan daya kreativitas, seorang penulis selalu mendayagunakan pemakaian bahasa agar karya-karyanya berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Dengan daya kreativitas, seorang penulis dapat memanfaatkan pengetahuan bersastranya untuk menghasilkan karya sastra yang berciri lain.
Kreativitas bisa mengacu pada pengertian hasil yang baru, berbeda dengan yang pernah ada (Roekhan, 1991). Misalnya, puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang menunjukkan ciri-ciri yang berbeda dengan karya-karya sebelumnya.
Banyak yang mengira bahwa kreativitas itu banyak ditentukan oleh bakat dan kemampuan bawaan. Ini tidak sepenuhnya benar, karena kreativitas ditentukan oleh perpaduan unsur-unsur seperti:
·         kemampuan berpikir kritis,
·         kepekaan emosi,
·         bakat,
·         daya imajinasi.
Dengan berpikir kritis orang tidak mudah merasa puas dengan apa yang telah ada. Dengan berpikir kritis, jiwa akan hidup karena didorong terus untuk mencari kemungkinan-kemungkian lain. Kepekaan emosi menjadikan penyair dapat merasakan sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Bakat dapat memperkuat daya kreativitas seseorang tetapi bukan satu-satunya unsur yang menentukan. Sebab, bakat tidak akan berarti jika tidak diasah dan dilatih terus menerus. Daya imajinasi memungkinkan seorang penyair menciptakan sebuah gambaran yang utuh dan lengkap dalam fantasinya.
Tahapan Kreativitas terdiri atas beberapa tahap, antara lain:
·         pemunculan ide,
·         pengembangan ide, dan
·         penyempurnaan ide.
Kunci utama yang harus disiapkan oleh penulis adalah ide (Kinoysan, 2007).
Ide sering muncul di sembarang tempat dan waktu. Munculnya ide tidak dapat diramalkan. Ide sering melintas dengan cepat dan menghilang lagi. Untuk itu ide yang ditangkap harus segera dicatat. Pencatatan ide harus dilakukan secara rinci. Ide yang muncul dalam benak penulis dapat berupa pengalaman dan pengetahuan sendiri atau pengalaman orang lain. Pengalaman dan pengetahuan tersebut bisa berkenaan dengan bidang keagamaan, kesenian, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan lain-lain.
Ide juga dapat muncul dengan cara dirangsang. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk merangsang pemunculan ide antara lain:
a.       mempelajari ide orang lain,
b.      meningkatkan pengetahuan dan pengalaman,
c.       menciptakan suasana yang menunjang (santai, bebas dari rasa malu dan takut),
d.      merenung,
e.       sering berlatih, dan
f.       terus berlatih berpikir kritis dan asosiatif (Roekhan, 1991:9).
Pengembangan ide dapat dibantu dengan:
ü  melakukan perincian,
ü  banyak membaca,
ü  menambah pengalaman,
ü  banyak merenung,
ü  banyak melakukan diskusi, dan
ü  mengamati sesuatu secara langsung.
 Ide yang samar-samar dan tidak lengkap dapt dirinci unsur-unsurnya. Masing-masing unsur kemudian dijabarkan lagi sehingga ide menjadi lebih jelas dan sempurna. Bacaan memperkaya wawasan seseorang. Melalui bacaan seseorang dapat mengetahui apa saja yang mungkin tidak dialaminya secara langsung. Ide yang samar-samar dapat diperjelas dengan cara terjun langsung dalam kehidupan yang akan digambarkan. Dengan merenung orang akan mengungkap kembali seluruh pengetahuan dan pengalamannya yang relevan dengan ide yang sedang digarapnya. Diskusi merupakan ajang saling bertukar pengetahuan dan pengalaman, sehingga suatu ide menjadi lebih jelas karena ditinjau dari berbagai sudut pandang. Dengan mengamati secara langsung orang daapt melihat suatu objek dengan lebih jeli dan lengkap.
Ide yang dilahirkan biasanya tidak langsung utuh dan sempurna. Untuk itu seorang penulis harus membaca kembali karya yang dihasilkan dan bila perlu memperbaiki karyanya itu. Untuk menyempurnakan ide penulis dapat melakukannya sendiri atau menyuruh orang lain untuk membaca dan memperbaikinya.
2.2.  Bekal kemampuan bahasa
Cara pemakaian bahasa dalam karya sastra harus menibulkan kesan tertentu dalam diri pembaca. Kesan itu berupa gambaran imajinasi, baik imajinasi penglihatan, pendengaran, penciuman, maupun imajinasi perabaan serta membangkitkan perasaan tertentu dalam batin pembaca. Bahasa dalam karya sastra sering menggunakan cara tersirat dan bersifat konotatif.
Penulis karya sastra harus mempunyai bekal kemampuan bahasa yang memadai.


Untuk mengembangkan kemampuan bahasa dapat dilakukan dengan cara;
·         mengembangkan kosakata,
·         mengembangkan penguasaan kaidah bahasa,dan
·         mengembangkan pengetahuan makna.
Kemampuan seorang penulis dalam memahami bahasa akan mempermudah kegiatan menuangkan ide dalam bahasa tulis. Untuk mengembangkan kemampuan bahasa seorang penulis dapat dilakukan dengan cara:
ü  Mengembangkan kosakata,
ü  mengembangkan penguasaan kaidah bahasa, dan
ü  mengembangkan pengetahuan makna.
Pembendaharaan kata seorang penulis akan membantu kelancaran penuangan ide dalam bahasa tulis. Untuk menambah kekayaan kosakata seorang penulis dapat dilakukan dengan membaca. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula jumlah kosakata yang dikuasai seseorang.
Penguasaan seorang penulis tentang kaidah bahasa akan mempermudah penulis menuangkan ide dengan tepat dan cermat. Kaidah bahasa dapat dipelajari dengan banyak membaca buku-buku tata bahasa. Untuk mengembangkan kemampuan seorang penulis dalam menguasai kaidah bahasa dapat dilakukan dengan tekun berlatih membentuk kata (membentuk kata dengan afiksasi dan pengulangan), berlatih membentuk frase, dan latihan mengubah struktur kalimat. Misalnya mengubah kalimat sederhana menjadi kalimat kompleks, mengubah kalimat langsung menjadi kalmiat tidak langsung, mengubah kalimat pasif menjadi kalimat aktif, dan lain sebagainya.
Pemahaman sesorang penulis tentang makna akan mepermudah penyampaian pesan kepada pembaca sesuai dengan keinginannya. Untuk itu penulis perlu memahami tentang tata makna. Misalnya, makna leksikan dan makna gramatikal, makna denotatif dan makna konotatif, perluasan makna, penyempitan makna, ameleorasi, peyorasi, sinestesia, asosiasi, kata umum dan kata khusus, sinonim, antonim, homonim, polisemi, majas, ungkapan, dan peribahasa.
2.3.  Bekal kemampuan sastra
Kemampuan seorang penulis tentang seluk beluk karya sastra akan mempermudah penulisan karya sastra, baik puisi, prosa (cerpen, novel, roman), maupun drama. Untuk meningkatkan kemampuan sastra seseorang dapat dilakukan dengan cara:
·         meningkatkan kemampuan apresiasi terhadap suatu karya sastra,
·         mengikuti kegiatan bersastra,
·         melakukan kritik karya sastra,
·         meningkatkan pengetahuan sastra, dan
·         menulis sastra.
Apresiasi merupakan sebuah proses. Panjang-pendeknya proses itu bergantung pada tingkat kepekaan emosi, ketajaman berpikir, dan imajinasi pengapresiasi. Sebagai proses, apresiasi memerlukan proses pembacaan karya sastra secara sungguh-sungguh dan teliti. Pengapresiasi harus memperhatikan dengan cermat setiap aspek dari karya sastra tersebut.
Banyak memgikuti kegiatan-kegiatan bersastra seperti sarasehan sastra, baca puisi, baca cerpen, dramatisasi puisi, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat menimbulkan rasa cinta terhadap sastra, menambah pengalaman dalam menulis sastra.Kritik dapat meningkatkan kekritisan seseorang dalam membaca dan menilai karya sastra. Dengan melakukan kritik terhdap karya sastra yang dibacanya, seseorang dapat menemukan kelemahan dan kekuatan suatu karya sastra. Dengan mengetahui kelemahan dan kekuatan suatu karya seseorang dapat memberikan penilian terhadap karya sastra secara proporsional, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, serta memberikan alternatif penyempurnaannya.
Pengetahuan seseorang tentang karya sastra dapat meningkatkan kemampuan apresiasi dan kritik terhdap suatu karya sastra. Pengetahuan ini dapat diperoleh dengan dua cara yaitu mempelajari buku-buku teori sastra, dan banyak membaca karya sastra serta banyak membaca tulisan-tulisan kritik sastra.
Menulis jika sering dilakukan, dapat memperlancar seseorang dalam mengungkapkan idenya. Semakin sering ia menulis, maka seorang penulis akan merasakan bahwa ide yang ditulisnya seolah mengalir dan tertata dengan sendirinya.


PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa kreatif menulis sastra mencangkup Tiga unsur penting: 1). kreativitas, 2). bekal kemampuan bahasa, dan 3). bekal kemampuan sastra (Roekhan, 1991:1). Kreativitas bisa mengacu pada pengertian hasil yang baru, berbeda dengan yang pernah ada. Kreativitas terdiri atas beberapa tahap, antara lain: 1) pemunculan ide, 2) pengembangan ide, dan 3) penyempurnaan ide.
Penulis karya sastra harus mempunyai bekal kemampuan bahasa yang memadai. Untuk mengembangkan kemampuan bahasa dapat dilakukan dengan cara; 1) mengembangkan kosakata, 2) mengembangkan penguasaan kaidah bahasa, dan 3) mengembangkan pengetahuan makna. Kemampuan seorang penulis tentang seluk beluk karya sastra akan mempermudah penulisan karya sastra, baik puisi, prosa (cerpen, novel, roman), maupun drama. Untuk meningkatkan kemampuan sastra seseorang dapat dilakukan dengan cara: 1) meningkatkan kemampuan apresiasi terhadap suatu karya sastra, 2) mengikuti kegiatan bersastra, 3) melakukan kritik karya sastra, 4) meningkatkan pengetahuan sastra, dan 5) menulis sastra.
3.2.  Saran
Saran penulis diakhir makalah ini yaitu setiap orang seharusnya banyak mempelajari tentang kreatif menulis. Pengetahuan seseorang tentang karya sastra dapat meningkatkan kemampuan apresiasi dan kritik terhadap suatu karya sastra. Pengetahuan ini dapat diperoleh dengan dua cara yaitu mempelajari buku-buku teori sastra, dan banyak membaca karya sastra serta banyak membaca tulisan-tulisan kritik sastra.Menulis jika sering dilakukan, dapat memperlancar seseorang dalam mengungkapkan idenya. Semakin sering ia menulis, maka seorang penulis akan merasakan bahwa ide yang ditulisnya seolah mengalir dan tertata dengan sendirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, Henry Guntur. 1981. Menulis; Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung Angkasa.